
Duka tak pernah benar-benar usai. Ia berubah bentuk, melunak seiring waktu, tapi tetap tinggal—karena cinta pun tetap tinggal.
Sepuluh tahun lalu, saat Bapak pergi untuk selamanya, dunia saya memang berubah, tapi waktu itu saya masih punya Nande—sosok yang bukan hanya menjadi orang tua terakhir, tapi juga tempat saya pulang, tempat saya merasa aman, meskipun hidup kadang terasa goyah dan tak tentu arah. Kehilangan Bapak saat itu sangat menyakitkan, tapi kehadiran Nande menjadi alasan saya bisa tetap berdiri karena saya tahu saya tidak benar-benar sendiri.
Namun sekarang semuanya berbeda karena Nande pun telah pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya benar-benar sendirian tanpa orang tua. Tak ada lagi suara lembut yang menyambut saya saat pulang, tak ada lagi tangan hangat yang menggenggam ketika hati ini mulai goyah. Sejak saat itu, satu pertanyaan terus berputar dalam kepala saya—bagaimana caranya saya melanjutkan hidup tanpa mereka? Saya mencoba mencari jawabannya ke mana-mana, tapi semakin dicari rasanya semakin menjauh.
Setiap kali air mata jatuh, saya sering bertanya dalam hati, sebenarnya apa yang sedang saya tangisi? Apakah saya menangisi Nande yang kini sudah tenang di tempat terbaik, atau sebenarnya saya sedang menangisi diri saya sendiri? Duka ini terasa seperti cermin yang memperlihatkan ketakutan saya yang paling dalam—takut sendirian, takut kehilangan arah, takut hidup tanpa pegangan.
Sering kali kita selalu mendengar ucapan “Ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kita, Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik.” Tapi jujur saja, kalimat itu sempat membuat saya bertanya-tanya—memangnya ada yang bisa lebih baik dari Ibu? Apa yang bisa menggantikan kehadiran beliau, pelukannya, atau caranya memanggil nama saya dengan nada yang membuat saya merasa dicintai?
Lama saya tak menemukan jawabannya, sampai suatu hari tanpa sengaja saya membuka kembali foto-foto lama dan melihat senyum Nande di hampir setiap momen, meski di balik senyum itu saya tahu beliau sedang menahan sakit. Tapi di situlah saya melihat Nande yang sesungguhnya—menjadi kuat adalah bentuk cintanya yang terakhir, untuk kami anak-anaknya dan cucu-cucunya. Dan saat itu saya kembali bertanya, apa sebenarnya yang saya tangisi?
Di saat-saat ketika rasa rindu begitu berat, saya sering berdoa dengan mengiba, meminta kekuatan, atau sekadar berharap bisa bertemu Nande lewat mimpi. Tapi ada kalanya saya merasa lelah berdoa, karena diam-diam saya menginginkan sesuatu yang mustahil—ingin beliau kembali, walau hanya sebentar. Dan di saat-saat itu saya merasa takut, takut Tuhan akan marah karena saya terlalu berharap pada sesuatu yang sudah menjadi keputusan-Nya. Saya takut kerinduan ini justru dianggap menentang takdir, padahal saya hanya ingin merasa dekat dengan Nande sekali lagi.
Tanpa saya sadari, jawaban itu ternyata tumbuh perlahan di dalam diri saya. Bukan karena ada sosok lain yang datang menggantikan beliau, tapi karena saya mulai berubah—saya belajar berdiri meski rapuh, belajar melangkah meski tanpa sandaran. Saya adalah bagian dari cinta dan nilai-nilai yang mereka tanamkan, dan menjadi pribadi yang tangguh dan penuh kasih adalah cara saya menjaga warisan itu.
Sekarang, setiap kali saya teringat Nande dan air mata kembali jatuh, saya tidak selalu bisa menahan diri. Kadang saya tetap merasa kecil di hadapan kehilangan, tetap merasa goyah, tapi saya juga belajar untuk tidak merasa bersalah karena masih bersedih. Saya menangis karena saya kehilangan, karena saya belum sepenuhnya tahu bagaimana caranya menjalani hidup tanpa Nande. Tapi di sela-sela kesedihan itu, saya mulai mengerti bahwa mungkin duka ini adalah ruang tempat saya bertumbuh—bukan karena saya sudah kuat, tapi karena saya sedang berusaha berdiri, menjaga amanah yang Nande tinggalkan, meski langkahnya belum selalu yakin.
Dan dari setiap upaya yang belum selalu berhasil itu, saya mulai sadar bahwa duka ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan. Perjalanan yang berat, kadang membingungkan, tapi tetap harus saya tempuh. Saya belum bisa mengatakan bahwa saya sudah menjadi anak yang membuat mereka bangga, tapi saya ingin terus mencoba. Karena cinta mereka, meski tak lagi bisa saya sentuh, tetap saya rasakan—menjadi pengingat yang pelan tapi nyata, bahwa saya masih punya alasan untuk bertahan, meski dengan napas yang berat dan mata yang masih basah.
Mungkin duka hanyalah cinta yang tak tahu ke mana harus pergi—tapi mungkin juga, ia adalah ruang sunyi tempat kekuatan mulai tumbuh.
0 comments